Sabtu, 19 November 2011

RESENSI LIFE TRAVELER

LIFE TRAVELER -Suatu Ketika Di Sebuah Perjalanan


Penulis : Windy Ariestanty
Editor : Alit T. Palupi
Desainer Cover : Jeffri Fernando
Penerbit : GagasMedia

SINOPSIS

‘Where are you going to go?’ tanyanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja saya.

‘Going home.’ Saya menjawab singkat sambil mengamati landasan pacu yang tampak jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran ini.

‘Going home?’ Ia berkerut. ‘You do not look like someone who will be going home.’

Kalimat inilah yang membuat saya mengalihkan perhatian dari bulir-bulir hujan yang menggurat kaca. ‘Sorry. What do you mean?’



(Satu Malam di O’Hare) 


CELOTEHKU

Asiik dapat Tanda Tangan dari Kak Windy.. Plus dapat tas Live Traveler belum lagi dapat potongan harga Rp. 16.000 \(´`)/

Aku sangat suka buku ini, sebenarnya buku ini bukan novel tetapi pembawaannya atau bahasa yang digunakan seperti novel-novel kebanyakkan.



Pertama aku suka membaca karya Kak Windy adalah buku berjudul Shit Happenes yang berduet dengan Kak Crishtian Simamora. Dan mulai dari situ aku sangat suka karangan Kak Windy.



Dan akhirnya Kak Windy menerbitkan karyanya walaupun bukan Novel tetapi ini tetap sebuah karya dari Windy Ariestanti.



Saat membaca buku ini, aku seperti mengikuti Kak Windy menjelajah. Terlebih lagi aku menemukan dunia luar yang unik.



Mulai dari bab 1 yaitu berkemas.

Kalau aku merasa Kak Windy memberikan tip & trik cara berkemas suapaya pakaian selama diperjalanan cukup untuk travel dan tidak membawa pakaian yg tidak penting.



Okey, kalau gue kasih perbab kayaknya kurang seru. Gue akan bercerita sedikit dari buku yang super seru ini.



Bahasa Tubuh Manusia ?

Yup, sering kali kita tidak tahu apa bahasa atau bertanya, kenapa banyak sekali bahasa didunia ? Bukankah seharusnya hanya satu bahasa supaya semua manusia mengerti apa yang dibicarakan ?

Jujur, aku tidak terlalu mengerti bahasa Inggris yang rumit padahal aku sangat suka membaca novel luar. Tetapi apakah itu menjadi pengahalang bagiku ? Atau saat aku bertemu dengan seorang China yang bertanya kepadaku dengan bahasa cina, yang aku tidak mengerti sama sekali. Tetapi aku menjawab pertanyaannya memakai bahasa Indonesia.

Lucu memang apalagi saat Kak Windy bercerita bagaimana seorang nenek Rusia yang tidak bisa berbicara bahasa Inggris hanya bisa bahas Rusia tetapi nekat menjelajah negara-negara Indochina. Saat kak Echa menanyakan darimana asal nenek itu.

 "Russia"jawabnya sambil menunjukkan paspor ke Echa "No English"- hal. 131

Kenekatan nenek itu membuahkan hasil, yang aku sadari dari cerita nenek ini adalah bagaimana bahasa tetap saja bahasa dunia diperlukan. Bahasa yang tidak terpatok kepada suatu negara tetapi bahasa dunia dapat menerjemahkan lebih bebas dan tanpa batasan. Bahasa itu dapat dilihat dari mimik, body langues, pemahaman, pendengaran dan lain-lain.



Lanjut ke bab 9 yang bercerita tentang seorang editor bernama pak Mula Harahap.

Aku suka cara Kak Windy menceritakan tentang sosok Pak Mula dihadapan kakak. Seorang editor yang sangat menjujung tinggi nilai sebuah buku.

Aku tidak tahu siapa itu Pak Mula Harahap tetapi aku akhirnya tahu siapa dia walaupun aku dapat dari sudut pandang Kak Windy.

Surat Kak Windy begitu menyentuh. Kak Windy memberikannya kepada orang yang sangat berharga baginya dan bagi kita yang tidak tahu menjadi tahu sosok pejuang itu. Dibalik rangkaian kata-kata tersimpan kebangaan karena telah mengenal sosok Mula Harahap itu yang aku dapatkan. Sosok pak Mula yang mau belajar walaupun beliau lebih lama berada didunia perbukuan.

"........ Buat saya, Bapak Manusia Pembelajar. Bapak tak pongah karena sudah makan asam garam dunia penerbitan. Bapak mau belajar lagi dari nol....." - hal. 169

Aku tak bisa menuliskan bagaimana sosok Pak Mula disini tetapi hanya itulah yang aku dapatkan dari cerita kak Windy dibuku ini.



Didalam buku ini bukan hanya menceritakan perjalanan tetapi ada sedikit kisah cinta dari Kak Windy. Walaupun kisah cintanya tak berakhir sesuai harapan tetapi itulah yang dinamakan perjalanan menuju Arti Cinta sebenarnya.

Banyak curhat atau cerita tentang Cinta baik itu berita bagus dan buruk. Tetapi aku hanya menanggapinya bahwa itu adalah proses dari mengenal dan memperoleh Cinta.

Jangan pernah menanyakan kepadaku apa itu Cinta kepada pasangan ? Jujur, aku tidak tahu. Kak Windy mungkin pernah merasakan Cinta yang bersemi dan berakhir, Cinta yang datang dan mencari. Tetapi aku ? Aku hanya wanita yang ingin menyendiri lebih dahulu, aku ingin mendengar bagaimana Cinta itu ada dan muncul disetiap pasangan.

Bohong kalau aku tidak iri ketika salah satu sahabatku bermersaan. Tetapi itu semua aku tanggapi dengan sabar karena aku tahu semua manusia pasti ada pasangannya.



Ada kisah saat Kak Windy ke Paris dan berkenalan dengan seorang wanita berpaspor Belanda tetapi tinggal di prancis bernama Marjolein. Wanita yang sangat mencintai Indonesia.

"Saya cinta Indonesia", ungkap Mar.... Mar menyelipkan harapan idealisnya. "Ada banyak bangunan dan monumen cantik dan bagus di Indonesia. Sayang, kurang dihargai" hal. 306

Nah, orang luar saja begitu mencintai Indonesia. Kenapa kita tidak bisa mencintai negara kita ? Itu yang selalu menjadi pemikiranku ketika banyak sekali orang Indonesia tidak menghargai yang sudah ada di depan mata. Kak Windy mengajarkan kita untuk menghargai negara kita.

Aku selalu bermimpi kalau bisa sebelum aku jalan-jalan keluar negeri aku ingin menjelajah Indonesia. Melihat keaneka ragam Indonesia yang sangat terkenal.



Yup, itu saja riview-ku. Sebenarnya masih ada satu bab lagi tetapi itu aku skip, bab ke 17.



Sedikit protes kalau Kak Windy baca. Hehe*

Kok, ada cerita yang sama di buku The Journey ?? Padahal aku pikir ceritanya semua masih gress. *cemberut*



Di dalam buku ini ada Tips & Trik Traveler. Juga tempat-tempat yang harus dikunjungi.

Terima Kasih ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar