Jumat, 01 Maret 2013

Aku, Kamu dan Keheningan

Hmmm, curhat dulu,ya.
Gak pernah sama sekali nulis cerpen apalagi kaloborasi tapi semenjak liat kaloborasi kak wulan , kak didieth dan mas ijul. jadi kepengin. akhirnya, bilang dong sama empu punya acara. katanya dia mau jadi teman pertama gue berkaloborasi.

Senang banget, serius gak pernah gue sesenang ini dan ada rasa malu karena. Heii, biasanya delisa tukang protes sekarang malah bikin cerpen. Hahaha.

Dan inilah ceritaku bersama si kakak cantik dan partner kedua teman siaran gue kak @wulanparker.

Lagi-lagi hujan kembali turun membahasi bumi ini. Dan lagi-lagi pula hujan itu turun ketika aku duduk termenung di dalam kafe ini. Kafe langananku ketika aku butuh menyendiri.


Lagu-lagu mancanegara yang populer merebak menyusupi teling-telinga yang tenang. Termasuk milikku. Aku memaku tatapanku pada sebuah novel kesayangan yang saat ini ada bersamaku. Sesekali aku meenyesap capucino hangat yang sudah aku pesan terlebih dahulu.


Tak banyak aku lakukan di tempat ini. Namun, sekian rasa bergantian menyusupi. Ada senyum-senyum kecil yang tiba-tiba menyimpul ketika sesaat aku menoleh dan mendapati banyak laku orang-orang di hadapku. Entah mengapa semua terasa mengasyikkan dan ada sesuatu yang mendorongku untuk merasakan nikmat.


Rasa nikmat ini membuatku tersenyum. Ahh, andai saja ada seseorang disampingku saat ini. Lucu rasanya melihat mereka yang saat ini menyesap berbagai macam makanan dan minuman di kafe ini selalu hadir berpasangan. 


Apakah hari ini valentine? Dan aku pun menyadari dekorasi kafe ini berubah. Rasaku di atas meja ini tidak pernah ada vas bunga kecil dan ornamen - ornamen berbentuk hati berwarna pink tersebar di bawah langit kafe. Sepertinya, aku salah datang pada malam hari ini.


Aku melihat ke kaca yang mengelilingi ruangan di kafe ini. Ia basah oleh titik-titik hujan yang jatuh dari atap bangunannya. Namun aku selalu menyukai itu. Dingin yang tak terlalu dingin, sepi yang tak begitu sunyi. Namun aku merasa ada tenang yang memeluki aku.


Lalu bagaimana kabar ingatan? Iya... tentu saja. Itulah tadi yang kukatakan aku berandai-andai adanya ia di sisiku. Namun, apa boleh buat, negeri kincir angin tengah memenjarainya hingga suatu waktu nanti. Katanya, aku tak boleh merasa sepi, ia akan tetap ada di dalam hati. Aku tetap bisa memiliki ia.

Aku mengulas senyum, membayangkan ia yang tengah memperjuangkan impiannya. Ia benar, aku tak boleh merasa sepi, tak boleh takut sendiri.


Kadang kala aku butuh keheningan saat bersamanya. Rasa itu berbeda. Hanya duduk bersebelahan dengan pria itu membuat kedamaian dan nyaman yang berbeda. Ya, dia sosok yang berbeda. 


Tanpa kata atau kalimat dari bibir kami. Hening yang menyelimuti, duduk bersebelahan dan dengan kegiatan yang berbeda. Aku membaca novel kesukaanku dan dia menyelesaikan desain sebuah gedung bertingkat. 

Aku tahu tangan itu sangat terampil dalam menggambar. Ah, memori yang berkelebat dibayanganku membuatku merindu. Rindu akan aktivitas kebiasaan kami. Tak seperti pasangan kebanyakkan. Setiap kali bertemu aku dan dia hanya tersenyum, berpelukkan dan dia mencium keningku. Kemudian kami bercakap-cakap hingga aku duduk membaca dan dia menyelesaikan pekerjaannya. 


Barra, pria yang tak banyak bicara. Tapi sungguh semua yang ia lakukan, aku rasakan penuh cinta. Ia tak pernah main-main denganku. Bahkan malam itu, saat ia memilihku menjadi labuhan hati yang terakhir untuknya. Tak ada cincin atau pun bunga untuk menemani ungkapannya. 


Ia memutar lagu dari ipod miliknya, lalu membagi headset kepadaku. Diantara jeda lagu aku mendengarkan suara miliknya. Mengungkapkan semua perasaannya padaku. Air mata pun tak bisa kubendung lagi. Semuanya meleleh seketika. Hingga semua suara hilang. lalu, kami pun berada dalam hening yang cukup syahdu.

Deburan ombak menjadi saksi malam itu. Punggung kami saling bersandar. Saling merasakan gemetar tubuh yang kian menjalar. 


Aku tersenyum simpul ketika menginggat keheningan yang lain. Ketika itu, aku dan dia duduk bersebelahan kembali. Tidak ada novel yang ku baca dan dia pun tak menggambar. Kami duduk di sebuah sofa panjang menghadap Tv LED yang besar. 


Aku ingat, ketika itu kami menonton sebuah serial drama korea tentang seorang wanita buta dan pria tampan. Ketika bagian yang paling sedih, aku tak kuat menahan rasa sedihku. Dia hanya mengelus lenganku kemudian memberikan beberapa lembar tisu. Tanpa kata apa pun dari bibirnya aku tahu dia mencemaskanku.

Di antara air mata bumi yang sedang berjatuhan ini, di antara keheninganku. Sesosok pria datang ketempatku, lagi-lagi tanpa kata. Dia hanya tersenyum, pancaran sinar matanya membuatku merasakan kedamaian itu kembali. Senyumku pun bertambah lebar. 

Yah, Barra seorang pria yang aku cintai tanpa syarat apa pun dan dia pun mencintaiku apa adanya. Sedang menatapku. Tak ada kata atau kalimat. Aku tahu dia mencintaiku hanya melihat melalui matanya dan keheningan ini. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar